Bola ubi madoo, berbentuk seperti bola tenis, bulat namun agak sedikit kecil dan kopong. Bola ubi madoo dibuat dari ubi cilembu madu yang terkenal sangat manis. |






![]() | Today | 4 |
![]() | Yesterday | 16 |
![]() | This week | 139 |
![]() | Last week | 159 |
![]() | This month | 631 |
![]() | Last month | 791 |
![]() | All days | 15260 |
Your IP: 38.107.179.217
,
Today: Jan 28, 2012
Bola Ubi Madoo
Bisnis Kemitraan Renyah nan Menguntungkan
Investasi Rp15 juta, profit Rp2 juta – 3 juta per bulan! Maknyussss.....
Ubi jalar adalah bahan makanan dari jenis umbi-umbian, selain singkong, talas dan kentang yang bisa langsung diolah menjadi beragam makanan ringan yang lezat dan enak. Di Indonesia, ubi jalar sudah sangat dikenal oleh sebagian masyarakat. Namun sayangnya, ubi jalar bukanlah jenis makanan favorit dan biasanya lebih dikenal sebagai makanan rakyat pedesaan. Padahal, ubi jalar mengandung beragam gizi yang sangat baik, bahkan jika kreatif dalam pengolahannya bisa menjadi lahan bisnis yang menguntungkan.
Di Bandung, ada makanan berbahan ubi jalar yang sedang digandrungi banyak orang. Makanan itu adalah Bola Ubi Madoo. Bola karena memang bentuknya unik seperti bola tennis tapi kopong. Sedangkan Madoo karena bahan dasarnya dari ubi madu (ubi cilembu) yang terkenal sangat manis.
Bola Ubi Madoo memang makanan yang masih belum familier. Namun di Bandung, makanan ini sangat digemari. Selain unik cara penggorengannya maupun bentuknya, rasa Bola Ubi Madoo juga lezat dan garing. Sehingga setiap orang mencoba pasti bakal ketagihan.
Nah, melihat fenomena Bola Ubi Madoo di Bandung, Irwan Tanusolihin, pria yang sudah berpengalaman di bisnis makanan, dan memiliki beberapa gerai roti bakar merek 88 di Tangerang, tertarik mengembangkan bisnis Bola Ubi Madoo di daerahnya, Tangerang dan beberapa kota lain. “Mulanya saya tertarik untuk terjun ke bisnis ini karena tertarik dengan rasanya yang enak, tidak mengenyangkan dan proses penggorengannya yang unik dan menarik,” ungkap Irwan. Disamping yang juga tidak kalah penting adalah potensi bisnisnya yang besar dan bahan bakunya mudah didapat.
Proses penggorengannya, cerita Irwan, adonan Ubi Bola Madoo dipulung – pulung sebesar kelereng besar, lalu di goreng di dalam minyak. Setelah agak membesar, diangkat lalu digoreng lagi sambil ditekan – tekan dengan menggunakan sendok khusus. “Nah, pada saat bola ubi ditekan – tekan dengan sendok khusus, Ubi Bola Madoo akan melembung, hal ini diulang – ulang sampai bola ubi madoo sebesar bola tenis dan garing,” paparnya.
Tak perlu beripikir lama. Setelah mantap dan yakin akan potensi Bola Ubi Madoo, pada Januari 2010 Irwan pun mantap mendirikan booth Bola Ubi Madoo di Tangerang. Booth pertama ia dirikan di depan gerai Roti Bakar 88 miliknya. Lantaran respon masyarakat Tangerang sangat bagus, booth-booth berikutnya menyusul bediri. Saat ini total di Tangerang sudah ada 4 booth. Selain di depan Roti Bakar 88, juga berdiri di daerah Pasar Lama, Pasar modern BSD dan di Foodcourt Villa Permata, Lippo Karawaci.
Dalam waktu dekat, akan buka 2 booth lagi yakni di Salsa Food City, Gading Serpong dan Alam Sutera.
Kemitraan
Potensi yang bagus tetapi belum dikembangkan secara maksimal, adalah contoh dari produk Bola Ubi Madoo. Pasalnya makanan jenis ini hanya terdapat di Bandung. Daerah-daerah lain sama sekali belum ada bahkan mengenalnya. Oleh sebab itu, Irwan melihat ada peluang bisnis besar jika mampu memperkenalkan Bola Ubi Madoo ke berbagai daerah melalui pola kemitraan. “Karena peluang bisnisnya sangat besar, mengingat saat ini bola ubi madoo belum dikembangkan secara maksimal, hanya ada di Bandung,” kata Irwan menerangkan alasan memitrakan Bola Ubi Madoo.
Kemitraan Bola Ubi Madoo ditawarkan Irwan dengan harga Rp 15 juta. Harga kemitraan tersebut sudah termasuk booth, perlengkapan, bahan baku awal, seragam, banner dan training karyawan. “Konsep kerjasama yang kami tawarkan berbentuk kemitraan dimana kami akan menyediakan bahan baku serta pelatihan kepada mitra. Kami tidak memungut royalti kepada mitra,” terangnya.
Irwan menegaskan, bisnisnya ini sudah terbukti menguntungkan. Per booth, kata dia, rata-rata mampu menjual 200 – 300 buah per hari, kalau weekend, omsetnya biasanya bisa dua kali lipat. Jika harga jual per buahnya Rp 1,250 - Rp 1,500, tergantung lokasi Omset per bulan (200pcs@ Rp 1.250 x 30 hari), minimal Rp 7,5 juta. Setelah dikurangi total pengeluaran untuk gaji karyawan, sewa, elpiji dan bahan baku yang perbulannya sekitar Rp5,4 jutaan maka laba bersih yang didapat per booth adalah Rp 2 juta – Rp 3 juta dalam perhitungan yang konservatif. Apabila harga jualnya Rp 1,500, keuntungan per bulannya bisa mencapai 4 juta sehingga balik modal dalam waktu kurang dari 4 bulan,” katanya.
Melihat fakta bisnis yang menguntungkan itu, Irwan optimis Bola Ubi Madoo akan cepat berkembang biak ke berbagai tempat. Sampai akhir 2010 ini, ditargetkan bisa buka sampai 30 booth. Tetapi untuk tahap awal, fokus pengembangan Irwan masih di Jabodetabek . “Untuk tahap awal kami akan fokus untuk mengembangkan kemitraan di daerah Jabodetabek dan sekitarnya,” pungkasnya.
Informasi kemitraan hub:
Bola Ubi Madoo
Jl. A. Yani No. 26, Pasar Anyar Tangerang
Telp: 0812 8169 5500 / 83333 455
Email :
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it








